Minggu, 20 November 2011

karya ku






Rasa yang Tertunda
                                     By  : Novita Sari :)
                                              XII IPA 1












Cinta Dalam Hati
By : Ungu :)



Rasa yang tertunda

Cinta, hah? Siapa yang tak tahu akan rasa fitrah manusia ini. Berbagai kitab klasik, bahkan berbagai buku zaman sekarang pun tak pernah kehabisan tinta untuk menuliskan suatu tema tentang cinta. Selama manusia ada, pastinya cinta akan selalu menyertai mereka.
Suatu cerita kisah cinta seorang wanita terhadap seorang pria aneh. Yang tentang kesedihan maupun kebahagiaan. Berikut ceritanya .

Suatu hari lahirlah cucu adam yang bernama Ovi, siswi SMP kelas 7.
Hari itu tepat pada hari masa orientasi siswa biasa disebut MOS. Penampilan pun persis seperti orang gila baru. Pada saat itu, bola mata ku tertuju kepada satu cowok yang bisa dikatakan lumayan ganteng sih, mengapa dikatakan lumayan? karena sangat jauh dari Min Woo Boy Friend. Hahaa

Namanya ….. Agan. Seorang cowok yang pendiam, pemain bola, jahil, dan tentunya wajahnya sedikit berkelas, paling tidak gak malu-maluin kalo lagi jalan . Namun, sedikit tingkahnya yang amat aneh, tapi itu tak menjadi alasan untuk merubah ketampanannya.

Saat mata tertuju kepadanya, tak tahu mengapa jantungku berdebar-debar, seperti mau perang. Eeeeh ternyata … Seorang kakak kelas tiba-tiba datang menghampiriku dan berkata

“Hei kamu! Ulangi perkataan saya”. teriak seorang cowok yang serontak membuat spontan jantungku mau copot, untung aja udah dikasih lem, jadi gak lepas, hihii
                   
Ternyata aku kena gep. Mampus ni. Aduuuuh .. Gawat! Malu banget, depan orang banyak pula, yang lebih memalukannya lagi, di depan dia. Huh! Gak bisa kebayang deh .

Udah penampilan kayak orang gila, dipermalukan lagi, tapi gak apa sih yang penting udah bisa natap dia, hihii. Namun, ternyata lebih parah, kakak kelasku itu kakaknya Agan . Waaaaah ! Lengkap sudah deritaku hari ini, malu …. Tebal banget nih muka, aku mau cepat-cepat pulang, mau mandi bunga 14 rupa, haaahaa

∙ ∙ ∙

            “Teeet … Teeet… Teeet …”  bel pun berbunyi, pertanda masuk sekolah.
Ini adalah hari perdanaku sebagai anak siswi SMP unggulan. Seneeeeeng banget. Pake rok biru, teman baru dan pastinya pandangan baru, hihii ..


Tapi aku gak terlalu ngerasain banyak temen baru deh, karena temen-temen aku sekarang hampir sama semua, bisa dibilang pindah sekolah aja, haahaa
Sekolah beda, teman tetap sama. Namun, tidak untuk Agan. Dia cowok pertama yang membuat aku jadi pangling, menawan banget, penyemangat belajar donk. Maklum dulu dari SD putri sih, hihiii

Satu minggu berada dalam satu kelas dan duduk berdekatan. Waaah … Rezeki nih, hihiii … Lalu kami berteman. Akrab satu sama lain dan aku bisa deket dengan Agan. 

Agan anak yang sangat jahil, berhasil membuat aku menangis persis kayak anak kecil yang gak dapet permen. Karena kejahilannya kami bertengkar. Aku marah dan kesal kepadanya, bermain gak pake perasaan sih, nyakitin hati.

“KETERLALUAN ….!” teriak ku dalam hati.

Pertengkaran itu berlanjut hingga satu minggu. Aku merasa kesepian, karena Agan tak pernah mau melihat ku, namun aku tak mau menyapanya, gengsi tau. Agan aja gak minta maaf duluan.

            “Eh Ovi, sini deh aku bilangin. Jangan terlalu deket yah ama Agan” bisik Yuni. “Kenapa?” jawabku. Namun Yuni gak mau ngasih penjelasannya, dan itu jelas tak berpengaruh padaku.
∙ ∙ ∙

“Teeet … Teeet… Teeet …” Bel pulang pun berbunyi, waktunya bergegas untuk pulang lalu tidur. Aku tidur siang lama banget, tak terasa bangun udah jam tujuh malem, sholat ashar lewat deh. Namun, dalam tidurku tadi, Agan telah masuk dalam mimpiku, tapi aku tak bahagia, malah aku takut dan heran, “ Mengapa aku bisa bermimpi demikian?” pikirku dalam hati.       

            Tentu saja mimpi itu terus menghantui pikiranku hingga larut malam. Suatu bunga tidur yang menceritakan keanehan Agan, mulai dari tingkah laku hingga wajah. Namun dalam mimpiku, aku tak takut dengannya. Karena dia tak berusaha menyakitiku.

            Mimpi yang menyeramkan. Dimana seorang anak laki-laki yang berwajah tampan dan layak dikatakan anak SMP, namun ternyata umurnya sudah 20-an. Suatu keanehan yang baru kali ini aku alami walau dalam mimpi. Jelas mimpi itu mempengaruhi pikiranku. Aku teringat akan tingkah laku Agan di sekolah.

∙ ∙ ∙

            Pelajaran pun dimulai, semua murid memperhatikan guru, namun tak begitu denganku. Aku terus memperhatikan Agan dari kejauhan, dan Agan mengetahui kalau bola mataku tertuju padanya.
            Betapa anehnya, dia pun tersenyum lalu mengeluarkan i-Phone nya dan mengetik sesuatu. Tak lama kemudian, i-Phone ku bergetar, dan satu pesan diterima.

         “Mengapa melihatku, perhatikan saja guru di depan, hihi J” bacaku dalam hati

            Sontak aku pun kaget, aku tak menyangka kalau dia tenyata message aku. Lalu ku balas dengan senyuman dan menghadap kepadanya. Sepanjang pelajaran aku tak henti-hentinya tersenyum sendiri, ntah bangga atau apa, yang jelas pertemanan aku dengan Agan sepertinya membaik. Dan ternyata kami pun berteman.

∙ ∙ ∙

            “Pertandingan kelas 7.7 melawan 7.2 akan segera dimulai!” teriak seorang guru olahraga yang berperan sebagai wasit dalam pertandingan sepak bola ini.

            Semua murid sontak berteriak mendukung kelasnya masing masing. Tentu saja aku akan menonton paling depan untuk melihat sang pangeran impianku bermain. Namun, tak lama permainan dimulai, Agan sepertinya sudah kehabisan tenaga. Aku panik dan langsung menuju ke arah Agan.

            “Kamu sakit Gan?” tanyaku sambil memegang dahinya

            “Sedikit kurang sehat, gak apa – apa kok,” jawabnya

            Namun, saat aku melihat kearah kakinya yang sedang terlunjur ke depan. Aku melihat sebuah tanda berwarna hitam yang bertuliskan angka 90.
            “Apa itu?” pikirku dalam hati. Mungkin angka favoritnya. Namun, rasa penasaranku bertambah banyak, lalu aku pun bertanya

            “Apa itu Gan?” tanya ku sambil menunjuk kaki Agan bertuliskan angka 90.

            Agan menutupkan tanda tersebut dengan handuk kecilnya, lalu pergi begitu saja meninggalkanku tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku kaget. “Apa mungkin aku lancang ya? Apa dia marah?” tanya ku dalam hati. Ketakutan ku mulai muncul. “Tapi mengapa dia marah? Apa salahku. Aku kan bertanya baik-baik.” tanya ku dalam hati lagi.

            “Gan, kamu marah ya? Maaf donk aku kan cuman nanya, gak dijawab juga gak apa – apa.” begitu isi pesan yang ku kirim kepadanya.

            Namun, sudah satu jam tak ada jawaban messageku darinya. “Mungkin dia udah tidur, pasti capek abis lari – larian tadi.” pikirku dalam hati
            Aku pun bergegas tidur. Namun, di tengah larut malam, mimpi itu datang lagi dan menceritakan hal yang sama. Spontan aku terbangun dari tidurku, lalu aku sholat tahajud untuk menenangkan pikiranku.

∙ ∙ ∙

            Sejak kejadian semalam, pikiranku kacau. Seperti ada yang menarik ku untuk terus menyelidiki mimpi itu, apa benar ada kaitan nya dengan Agan?
“Namun, apa kaitannya ya?“ pikirku
Lalu aku teringat akan kata – kata Yuni.“Jangan terlalu dekat dengannya”
“Tapi apa alasannya?” pikirku kembali.
Aku bergegas menemui Yuni dan memaksanya untuk menceritakan apa maksud perkataannya waktu itu.
            “Yun, tolong kamu jelaskan kepada ku sekarang apa maksud perkataanmu waktu itu tentang Agan?” tanya ku yang sontak membuat kaget Yuni

            “Dulu sewaktu kami SD, Agan tidak mempunyai teman. Tak ada yang mau berteman dengannya karena pada takut dengannya. Baik itu karena bulu di tangan dan kakinya yang sudah tebal dan keriting – keriting , persis bulu orang – orang dewasa. Jelas itu bukan ciri – ciri anak seusia dia yang duduk di bangku SD. Serta tingkah laku nya yang aneh yang suka membawa koran dan kopi setiap sekolah. Dia bilang itu hobinya. Namun, jelas tak semua orang percaya akan hal itu. Semua guru – guru pun menyadari akan keanehan tersebut.”

            “Mengapa aku harus menjauhinya?” tanya ku kembali

            Kamu masih belum paham akan ceritaku tadi.

            “Agan itu orang yang aneh, nanti kamu ada apa – apa kalau kamu berteman dengannya.” jawab Yuni

            Perkataan serta alasan Yuni itu membuat aku berpikir keras. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Apakah ada hubungannya dengan mimpiku?
Tiba – tiba aku teringat akan mimpiku kemarin. Mimpi yang sangat aneh. Sebuah rumah yang tua, tumpukan Koran dan secangkir kopi hitam. Sontak aku kaget dan teringat cerita Yuni tentang kebiasaan Agan waktu SD.  Sangat sama dengan barang – barang yang ada dalam mimpiku.  “Apa benar ada hubungannya?” tanyaku dalam hati.

            “Hei Ovi!” teriak Owen sambil berlari menuju Ovi

            “Aduh buat kaget aja kamu. Kebiasaan deh.” jawab Ovi yang sedikit kesal

            Lalu mereka berjalan bersama sampai tiba di sekolah. Sepanjang perjalanan mereka berbincang – bincang. Owen pun bercerita tentang Agan. Tiba -  tiba Ovi ingat sesuatu. Ovi lalu bertanya – tanya kepada Owen tentang Agan, karena Owen teman akrabnya Agan.

            Namun jawaban Owen tak membuahkan hasil. Karena Owen tahu kalau aku menyukai Agan, jadi semua tentang Agan yang baik – baik diumbar – umbar oleh Owen. Aku pun tersenyum – senyum saja mendengarnya.
“Dasar anak jahil.” teriakku dalam hati.

            Karena keasyikkan berbincang – bincang, hingga kami lupa waktu. Pukul tujuh sudah ada di depan mata. Kami pun berlari dan ternyata gerbang sekolah sudah tertutup. Harus mengeluarkan rayuan maut dulu untuk merayu Pak Satpam.

            “Ayo Ovi cepet merayu, Pak Sugi kan seneng ama kamu” kata Owen

            Dengan terpaksa Ovi merayu Pak Sugi agar diperbolehkan masuk, karena kami hanya telat 5 menit. Dengan kerja keras dan membutuhkan mental yang kuat untuk menghadapi satpam yang ganjen, akhirnya kami pun bisa masuk.
Kami berpisah di koridor kelas. Saat aku ingin menuju kelas dan melewati sebuah ruangan kecil di dekat tangga, aku melihat Agan sedang berdiri di depan ruangan tersebut. Entah apa yang dia kerjakan, yang jelas membuatku penasaran.
Aku mengintipnya dari balik dinding. Namun sialnya, pak guru lewat dan melihat Agan terlebih dahulu. Lalu pak guru menyuruh Agan untuk masuk kelas, dan aku pun ketauan. Aku ketauan telat karena aku masih menggendong tas.

∙ ∙ ∙

            Sepanjang lamunanku dari tadi, aku melamunkan sosok Agan yang tak pernah hilang dari pikiranku. Aku sangat mencintai dia, tapi cintaku hanya dapat aku pendam dalam – dalam. Dia pun tak mengetahui akan perasaanku. Namun, aku tak mau cintaku bertepuk sebelah tangan, aku ingin Agan menyadari bahwa aku sayang kepadanya. Ntah sampai kapan aku harus memendam rasa ini sendirian? Ntah sampai kapan aku mampu bertahan? Hanya Allah yang tahu.

            Tak sadar terlalu tenggelam dalam lamunanku, tak terasa air mata keluar dan menetes ke pipiku. Yuni yang melihat air mataku keluar segera menghampiriku. Aku hanya bisa diam dan segera menghapus air mataku. Mengapa sosok Agan sangat berharga dalam diriku? Juga aku takut kehilangan dia? Namun, rasa – rasa dia kan meninggalkanku telah aku rasakan sekarang. Aku merasa sepertinya dia tak lama ada di kehidupanku. Tapi tak tahu apa sebabnya? Mungkinkah dia mencintai orang lain? Tapi siapakah perempuan itu? Atau ada alasan lain? Hanya Agan dan Allah yang tahu. Semua aku serahkan kepada Allah.

            “Kamu kenapa? Sakit?” tanya Yuni

            Pertanyaan Yuni membangunkan aku dari lamunanku. Segera aku mengajaknya ke kantin, “Ternyata sehabis melamun, lapar ya.” pikirku
Saat di kantin aku melihat Agan sedang makan sendirian. Tak terlihat Owen disana. Ntah mengapa akhir – akhir ini Owen jarang sekali bersama Agan, mungkin mereka berdua sedang sibuk, atau Owen yang lagi sibuk.
            Rasanya aku ingin menghampiri Agan dan duduk makan bersama dengannya, namun aku malu. Aku hanya mampu memperhatikannya dari kejauhan.  

∙ ∙ ∙

            “Mau beli buku apa? Tumben ke toko buku.” tanya Yuni

            “Majalah terbaru kemarin, keren banget.” jawab Ovi

            Sesampainya mereka di toko buku, ternyata di sana ada Agan. Jantung Ovi pun berdetak – detak. Gugup tiap melihatnya apalagi bertemu dengannya.

            “Sendirian Gan?” tanya Ovi

            Namun, Agan tak menjawab dan langsung ke kasir untuk membayar bukunya. Ovi pun mengikuti Agan ke kasir walaupun Ovi belum mengambil buku satu pun. Saat Agan membuka dompetnya, Ovi melihat kembali tulisan angka 90 di dompetnya. Lalu matanya beralih ke sebuah foto yang tertempel di dompetnya. Sepertinya foto itu foto TK, SD, hingga SMP. Mengapa aku bisa tahu? Karena bajunya. Namun anehnya, wajah di fotonya tersebut tak berubah, dari TK hingga SMP. Terlintas pertanyaan dalam pikiranku, ingin berniat untuk bertanya, namun niat itu aku cancel. Agan pun telah pergi, aku masih berdiri di depan kasir.

            “Mau beli buku apa mbak?” tanya seorang yang berada di kasir tersebut.

            Aku pun langsung berlari menuju Yuni dan menceritakan apa yang aku lihat tadi. Yuni seperti biasa saja mendengarnya.

            “Lalu?” jawab Yuni dengan raut wajah biasa

            Huh, nyebelin.” jawab Ovi kesal meninggalkan Ovi

         Saat tiba di depan toko sepatu dan baju – baju, Ovi melihat Agan lagi yang sedang memilih – milih baju. Lalu dia keluar dengan membawa tas yang berisikan baju.

            “Namun mengapa dia membeli baju di toko ini? Ini kan toko untuk orang tua.” kata Ovi

            Ovi pun langsung menarik Yuni untuk masuk ke toko tersebut, lalu bertanya kepada pelayan yang tadi melayani Agan. Ternyata Agan benar membeli baju ukuran orang dewasa.

            “Tapi untuk siapa? Ayahnya kan sudah tiada.” jawab Yuni          

            Timbul suatu keanehan baru yang Ovi rasakan. Koran, kopi serta baju ukuran orang dewasa. Ada apa dengan semua ini?
Sangat tidak masuk akal. Dengan tingkah laku aneh yang selalu diam apabila di tanya. “Ada apa sebenarnya?” pikir Ovi dalam hati
∙ ∙ ∙

            “Nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan.” ucap seorang perempuan operator.

            Dengan cepat kilat aku pergi ke halte bis agar tak ketinggalan bis. Emang nasib ku lagi beruntung banget, aku belum ketinggalan. Ketika berdesakan naik bis, tiba-tiba i-Phone seseorang jatuh dan terkena kakiku, namun tak ada satu orang pun yang menyadari kejadian itu. Berniat untuk mengambil dan mengembalikannya kepada orang – orang di dalam bis, namun aku pun berfikir kembali, karena sorot mataku langsung tertuju pada gantungan i-Phone tersebut, bertuliskan 90, aku pun langsung teringat akan foto di dompet Agan, dan ternyata handphone ini benar milik Agan.
∙ ∙ ∙

            “Permisi .. Permisi .. Permisi ..” teriak ku sambil berlari.

            Sepanjang aku berlari, pikiranku terus tertuju ke Agan.” pantas saja dihubungin gak aktif – aktif, i-Phone nya aja emang gak aktif, kayaknya lowbet nih.” ujar ku dalam hati sambil memandang i-Phone yang ku pegang.
Namun, tiba – tiba kakiku terhenti ketika aku mendengar sebuah irama nan merdu dari sebuah alat musik berwarna hitam putih, dan diiringi suara emas nya dan bernyanyi …

            Ku rindu di sayangi sepenuh hati sedalam cintaku setulus hatiku
            Ku ingin memiliki kekasih hati tanpa air mata tanpa kesalahan
            Bukan cinta yang melukai diriku dan meninggalkan hidupku lagi
            Tolonglah aku dari kehampaan ini selamatkan cintaku dari hancurnya hatiku
            Hempaskan kesendirian yang tak pernah berakhir
            Bebaskan aku dari keadaan ini sempurnakan hidupku dari rapuhnya jiwaku
            Adakah seseorang yang melepaskan ku
            Dari kesepian ini

            Tiba – tiba air mataku menetes mengenai telapak tanganku, segera aku menghapusnya, dan aku pun mengintip dari balik kaca pintu, ternyata seorang laki – laki sedang duduk di kursi sambil melamun menghadap jendela dengan jari – jari tangan masih tertempel di atas piano. Terlintas di benakku apa yang terjadi dengannya. Tanpa ku sadari, Agan mengetahui keberadaan ku.

            “Kembalikan i-Phone ku.” ujar Agan tiba – tiba mengagetkanku.

            Aku pun terlihat pucat dan menjadi gugup. Lalu aku pun masuk dan mengembalikan i-Phonenya, ku jelaskan semua kejadiannya agar ia tak salah paham, lalu aku pun bertanya “90 itu apa?” tanya ku
Namun tiba – tiba wajah Agan memerah seperti di landa kemarahan yang dahsyat. Jantungku mulai tak karuan, badan panas dingin, gugup, pucat, semua campur aduk.

            “Mengapa kau selalu ada di setiap aku merasakan kepedihan ku?” ucap Agan dengan nada keras dan pergi meninggalkan ku

            Aku seperti terseret dalam kegelapan yang sangat mendalam. Kata – kata itu membuat air mataku menetes untuk kedua kalinya. Tersudut dan tersungkur ke lantai membuat hati tersayat – sayat. Seorang yang aku cintai, yang selalu hadir dalam bunga tidurku, masuk ke dalam pikiranku, telah mengucapkan kata – kata yang dapat merobek hati ku seperti sekarang. Aku tak kuasa untuk menahan amarah bahkan rasa sakit ini, namun apa daya, aku tak sanggup dan tak berani untuk meluapkan emosiku kepadanya, karena sesungguhnya aku menyayanginya .

∙ ∙ ∙

            “Teeet … Teeet … Teeet” bel pun berbunyi, tanda masuk kelas.

            Dari tempat dudukku, aku melirik ke arah bangku kosong di belakang, ternyata Agan tak masuk. Hatiku mulai berdegup kencang. Ada apa dengannya? Apa yang terjadi padanya? Terlintas tiba – tiba di benakku kejadian kemarin. “Apa ini ada kaitannya dengan yang kemarin?” ucapku dalam hati

            “Owen, kenapa Agan gak masuk?” bisikku pelan – pelan

            gak tau, i-Phonenya aja gak aktif dari kemarin.” ujar Owen

            Hatiku mulai gelisah tak tenang. Rasa ingin menjenguknya sangat besar di benakku. Namun, aku ingat kembali akan kejadian kemarin. Kejadian yang tak pernah aku dan dia rasakan sebelumnya. Sebuah pertengkaran hebat yang menyisakan rasa kepedihan di hatiku khususnya.

            Ternyata kejadian kemarin tak menjadi halangan ataupun alasan untukku tak menjenguknya. Aku berjalan dengan gugup menuju ke rumahnya. Saat tiba di depan rumahnya, terlihat sangat sepi. Aku mengetok pintunya.

            “Tok .. Tok .. Tok …”
            “Tok … Tok … Tok …”

            Berulang kali aku mengetok pintunya, namun hasilnya nihil. Ku coba untuk membuka pintunya, ternyata tak di kunci. Hasrat untuk masuk dan mengetahui keadaanya pun tak dapat aku tunda. Aku masuk dan langsung menuju kamar yang bertuliskan “ AGAN ROOM ”. Pasti itu kamarnya. Lalu aku masuk, dan Agan tak ada di kamar. Rasa gelisahku semakin menjadi – jadi. Namun, tiba – tiba sorot mataku langsung tertuju pada sebuah buku kecil berwarna merah yang sudah kusam namun menarik untuk di baca. Dengan rasa gelisah, takut serta cemas ketauan dan lancang masuk rumah bahkan kamar orang, aku pun mulai membukanya.

            “Bismillahirrohmanirrohim.” ucapku dalam hati

            Mataku mulai membaca tulisan pena berwarna biru tersebut dengan cepat. Namun, betapa kagetnya aku setelah membaca sebuah diary bagian paling belakang yang berisikan :

            Aku sadar, aku tak seperti kalian
            Hidup dengan keadaan normal
            Bergaul dengan teman sebaya, bahkan dapat menemukan kekasih hati
            Yang mampu membuat hati kalian bahagia
            Hidupku penuh dengan ketakutan, kesepian, kecemasan, bahkan keanehan
            Itu aku rasakan sendiri sebagai manusia yang tak seperti biasanya
            Aku tak tertarik akan dunia anak remaja bahkan percintaan
            Aku bahkan tertarik dunia kedewasaan
            Kadang aku berfikir untuk apa aku hidup kalau aku menahan sakit
            Sakit yang sangat sakit dan mungkin paling tersakit
            Hidup diantara orang – orang normal seperti kalian
            Apakah kalian tahu kalau aku ini makhluk aneh?
            Makhluk yang tak sesuai dengan kalian
            Orang yang sudah tua namun wajah ku tetap tak berubah
            Suara ku bahkan bentuk tubuhku tak menampakkan kalau aku orang dewasa
            Yang sampai tahun ini usia ku 20 tahun
            Dan tepat pada hari ini tentunya
            Tak ada yang merayakan hari lahirku
            Aku sama sekali tak bahagia hidup di dunia ini
            Apakah aku makhluk yang abadi?
            Aku tak tahu apa yang Engkau rencanakan untukku ya Tuhan
            namun kalau boleh aku meminta satu permintaan
            tolong cabut nyawaku saat ini juga
            aku rela dan aku siap
            semoga Engkau yang disana mendengar permohonanku

            Sesak terasa di dada, tak kuasa aku menahan air mataku. Kaki ku seolah mengajakku untuk bergegas pergi dari sini dan segera mencari Agan, orang yang sangat aku cintai. Berlari dengan membawa tangisan dan rasa shock yang masih mendalam. Mencari dan terus mencari. Putus asa hampir menghampiri perasaan ku. Namun, selalu ku tolak. “Aku harus menemukan Agan” ucapku dalam hati.

            Sudah sangat jauh kakiku melangkah, namun Agan tetap tak ku temukan. Tapi tiba – tiba mataku tertuju pada sebuah sungai kecil di bawah jembatan. Rasa ingin menengok kesana mulai aku rasakan. Aku bergegas kesana dan tak ku sangka aku menemukan nya.
Seorang laki – laki nan malang, duduk di pinggir sungai dengan raut wajah yang kusut dan resah.
            “Agan?” ucapku tiba – tiba
            Namun tak ada jawaban. Aku mendekat dan menengok ke arah wajah nya. Ternyata benar dugaanku, aku telah menemukannya.
            “Agaaaaaaan …” ucapku kembali sambil menangis dan memeluknya dari belakang.

            Lalu aku duduk di samping nya dan sebuah air mata jatuh di telapak tanganku. Aku menengok ke wajah Agan dan ternyata seorang laki – laki yang aku sayangi mengeluarkan air mata yang begitu indah dari mata yang sangat indah.
Lalu aku hapuskan air matanya dengan tangan ku.

            “Terima kasih” ujar Agan

            Betapa kagetnya aku, Agan berkata padaku tanpa nada yang keras seperti kejadian waktu itu. Lalu dia menundukkan kepala sedangkan aku menatap air yang mengalir begitu tenang. Lalu aku berkata “untuk?” tanyaku singkat.
Lama tak ada jawaban. Ku pandangi dia namun tetap tak ada respond. Lama aku menunggu, dengan hati penasaran lalu aku mengangkat kepalanya, dan tiba – tiba sebuah wajah nan pucat, tubuh nan kaku ada di depan mata ku.
Ku pegang urat pada lehernya, dan betapa kagetnya aku setelah mengetahui bahwa Agan telah tiada. Tangisku tak dapat ku bendung lagi, suara jeritan tangis pun aku luapkan di atas wajahnya.

            “Kau kejam. Mengapa kau meninggalkan ku. Aku sangat mencintaimu. Aku tak peduli kau seperti apa, bagiku kau bagai kuda putih nan gagah yang siap menjemputku untuk terbang keliling angkasa bersamamu. Namun mimpiku kandas, kau bahkan tak mengetahui perasaanku. Aku mencintaimu dengan sederhana. Aku menyayangimu Agan. Tapi aku lega telah mengungkapkannya di hadapanmu, aku harap kau tahu isi hatiku. Satu hal lagi, aku minta maaf padamu karena aku telah lancang membaca diary mu, namun berkat kelancangan ku, aku mengetahui apa maksud dari semua tentang mu selama kehidupan mu. Terima kasih Agan telah hadir dalam mimpi serta khayal ku. Semoga kita dipertemukan dan bahagia di sana” ucapku yang diiringi dengan air mata kebahagiaan.

            Lalu aku persembahkan sesuatu untuknya. Sesuatu yang sangat spesial. Ku lantunkan sebuah tanda cintaku padanya dan ku persembahkan hanya untuk nya

            Mungkin ini memang  jalan takdir ku
            Mengagumi tanpa dicintai
            Tak mengapa bagi ku
            Asal kau pun bahagia dalam hidupmu
            Dalam hidupmu
            Telah lama ku pendam perasaan itu
            Menunggu hatimu menyambut diri ku
            Tak mengapa bagi ku mencintaimu pun adalah bahagia untuk ku
            Bahagia untuk ku
            Ku ingin kau tahu
            Diri ku disini menanti dirimu
            Meski ku tunggu hingga ujung waktu ku
            Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
            Dan izinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
            Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
            Dan biarkan rasa ini bahagia untuk selama nya.

Minggu, 13 November 2011

timmy :*

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&tl=id&u=http%3A%2F%2Fwww.timmytime.tv%2F&anno=2

aku suka moo :*
aku suka timmy :*
hahha hahaa



Sabtu, 05 November 2011

selamat hari raya idul adha :)

ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR
Gema takbir berkumandang memecahkan suasana sepi yang merasuk sukma dan menenangkan jiwa.
yiyik sekeluarga mohon maaf lahir-batin. 
Semoga perjalanan hidup kita semakin mudah dengan rezeki yang cukup dan berkah. Salam untuk keluarga.

“Daging (qurban) dan darahnya itu sekali – kali tidak akan sampai kepada ALLAH, tetapi yang sampai kepada-NYA adalah ketakwaan kamu. (QS. Al-Hajj ayat 37)."

Selamat hari Idul Adha :)

Jumat, 04 November 2011

aduh ... gimana ya? -,-

hai teman :)
ada yang mau yik sampein nih, simak ya , hihii

teman-teman yik pasti banyak yang sering galau, haa
yik juga tau :p
tp gak tahu kenapa galau itu asyik lho , huahaaaa
walaupun di pikir-pikir kurang kerjaan kali ya ..

mau sedikit share nih, yik belakangan ini hoby banget galau, haa
gak tahu kenapa? mungkin udah mau jatuh cinta tuh, atau udah jatuh cinta ya .. hahaaa
tapi gak tahu ama siapa :(
*malumaluin aja ya 

tapi .. apa yik salah ya galau-galau melulu
buang-buang waktu gak sih, huh
aduuuuh gimana ya?
pusiing :(

tapi jangan jadikan kegalauan mu suatu kebebanan mu, ok ;)
jadikan itu cerita hidupmu, hihiii
*sok bijak yik nih