Rasa yang Tertunda
By
: Novita Sari :)
XII IPA 1
Cinta Dalam Hati
By : Ungu :)
Rasa yang
tertunda
Cinta, hah? Siapa yang
tak tahu akan rasa fitrah manusia ini. Berbagai kitab klasik, bahkan berbagai
buku zaman sekarang pun tak pernah kehabisan tinta untuk menuliskan suatu tema
tentang cinta. Selama manusia ada, pastinya cinta akan selalu menyertai mereka.
Suatu cerita kisah cinta
seorang wanita terhadap seorang pria aneh. Yang tentang kesedihan maupun
kebahagiaan. Berikut ceritanya .
Suatu hari lahirlah cucu
adam yang bernama Ovi, siswi SMP kelas 7.
Hari itu tepat pada hari masa
orientasi siswa biasa disebut MOS. Penampilan pun persis seperti orang gila
baru. Pada saat itu, bola mata ku tertuju kepada satu cowok yang bisa dikatakan
lumayan ganteng sih, mengapa dikatakan lumayan? karena sangat jauh dari Min Woo
Boy Friend. Hahaa
Namanya ….. Agan.
Seorang cowok yang pendiam, pemain bola, jahil, dan tentunya wajahnya sedikit
berkelas, paling tidak gak
malu-maluin kalo lagi jalan . Namun, sedikit tingkahnya yang amat aneh, tapi itu tak menjadi alasan
untuk merubah ketampanannya.
Saat mata tertuju kepadanya,
tak tahu mengapa jantungku berdebar-debar, seperti mau perang. Eeeeh ternyata …
Seorang kakak kelas tiba-tiba datang menghampiriku dan berkata
“Hei kamu! Ulangi
perkataan saya”. teriak seorang cowok yang serontak membuat spontan jantungku mau
copot, untung aja udah dikasih lem,
jadi gak lepas, hihii
Ternyata aku kena gep. Mampus ni. Aduuuuh .. Gawat! Malu banget, depan orang banyak pula, yang
lebih memalukannya lagi, di depan dia. Huh!
Gak bisa kebayang deh .
Udah penampilan
kayak orang gila, dipermalukan lagi,
tapi gak apa sih yang penting udah bisa natap dia, hihii. Namun, ternyata lebih parah, kakak kelasku itu kakaknya
Agan . Waaaaah ! Lengkap sudah deritaku hari ini, malu …. Tebal banget nih muka, aku mau cepat-cepat
pulang, mau mandi bunga 14 rupa, haaahaa
∙ ∙ ∙
“Teeet
… Teeet… Teeet …” bel pun berbunyi,
pertanda masuk sekolah.
Ini adalah hari perdanaku sebagai
anak siswi SMP unggulan. Seneeeeeng banget.
Pake rok biru, teman baru dan
pastinya pandangan baru, hihii ..
Tapi aku gak terlalu ngerasain banyak temen baru deh,
karena temen-temen aku sekarang
hampir sama semua, bisa dibilang pindah sekolah aja, haahaa
Sekolah beda, teman tetap sama.
Namun, tidak untuk Agan. Dia cowok pertama yang membuat aku jadi pangling, menawan banget, penyemangat belajar donk.
Maklum dulu dari SD putri sih, hihiii
Satu minggu berada dalam
satu kelas dan duduk berdekatan. Waaah … Rezeki nih, hihiii … Lalu kami berteman. Akrab satu sama lain dan aku bisa deket dengan Agan.
Agan anak yang sangat
jahil, berhasil membuat aku menangis persis
kayak anak kecil yang gak dapet permen. Karena kejahilannya kami
bertengkar. Aku marah dan kesal kepadanya, bermain gak pake perasaan sih,
nyakitin hati.
“KETERLALUAN ….!” teriak
ku dalam hati.
Pertengkaran itu
berlanjut hingga satu minggu. Aku merasa kesepian, karena Agan tak pernah mau
melihat ku, namun aku tak mau menyapanya, gengsi
tau. Agan aja gak minta maaf duluan.
“Eh
Ovi, sini deh aku bilangin. Jangan terlalu deket yah ama Agan” bisik Yuni. “Kenapa?” jawabku. Namun Yuni gak mau ngasih penjelasannya, dan itu jelas tak berpengaruh padaku.
∙ ∙ ∙
“Teeet … Teeet… Teeet …”
Bel pulang pun berbunyi, waktunya bergegas untuk pulang lalu tidur. Aku tidur
siang lama banget, tak terasa bangun
udah jam tujuh malem, sholat ashar lewat deh. Namun, dalam tidurku tadi,
Agan telah masuk dalam mimpiku, tapi aku tak bahagia, malah aku takut dan
heran, “ Mengapa aku bisa bermimpi demikian?” pikirku dalam hati.
Tentu
saja mimpi itu terus menghantui pikiranku hingga larut malam. Suatu bunga tidur
yang menceritakan keanehan Agan, mulai dari tingkah laku hingga wajah. Namun
dalam mimpiku, aku tak takut dengannya. Karena dia tak berusaha menyakitiku.
Mimpi
yang menyeramkan. Dimana seorang anak laki-laki yang berwajah tampan dan layak
dikatakan anak SMP, namun ternyata umurnya sudah 20-an. Suatu keanehan yang baru
kali ini aku alami walau dalam mimpi. Jelas mimpi itu mempengaruhi pikiranku.
Aku teringat akan tingkah laku Agan di sekolah.
∙ ∙
∙
Pelajaran
pun dimulai, semua murid memperhatikan guru, namun tak begitu denganku. Aku
terus memperhatikan Agan dari kejauhan, dan Agan mengetahui kalau bola mataku
tertuju padanya.
Betapa
anehnya, dia pun tersenyum lalu mengeluarkan
i-Phone nya dan mengetik sesuatu. Tak lama kemudian, i-Phone ku bergetar, dan satu pesan diterima.
“Mengapa
melihatku, perhatikan saja guru di depan, hihi
J” bacaku dalam hati
Sontak
aku pun kaget, aku tak menyangka kalau dia tenyata message aku. Lalu ku balas dengan senyuman dan menghadap kepadanya.
Sepanjang pelajaran aku tak henti-hentinya tersenyum sendiri, ntah bangga atau apa, yang jelas
pertemanan aku dengan Agan sepertinya membaik. Dan ternyata kami pun berteman.
∙ ∙
∙
“Pertandingan
kelas 7.7 melawan 7.2 akan segera dimulai!” teriak seorang guru olahraga yang
berperan sebagai wasit dalam pertandingan sepak bola ini.
Semua
murid sontak berteriak mendukung kelasnya masing masing. Tentu saja aku akan
menonton paling depan untuk melihat sang pangeran impianku bermain. Namun, tak
lama permainan dimulai, Agan sepertinya sudah kehabisan tenaga. Aku panik dan
langsung menuju ke arah Agan.
“Kamu
sakit Gan?” tanyaku sambil memegang dahinya
“Sedikit
kurang sehat, gak apa – apa kok,” jawabnya
Namun,
saat aku melihat kearah kakinya yang sedang terlunjur ke depan. Aku melihat sebuah
tanda berwarna hitam yang bertuliskan angka 90.
“Apa
itu?” pikirku dalam hati. Mungkin angka favoritnya. Namun, rasa penasaranku
bertambah banyak, lalu aku pun bertanya
“Apa
itu Gan?” tanya ku sambil menunjuk kaki Agan bertuliskan angka 90.
Agan
menutupkan tanda tersebut dengan handuk kecilnya, lalu pergi begitu saja
meninggalkanku tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku kaget. “Apa mungkin aku lancang ya?
Apa dia marah?” tanya ku dalam hati. Ketakutan ku mulai muncul. “Tapi mengapa
dia marah? Apa salahku. Aku kan
bertanya baik-baik.” tanya ku dalam hati lagi.
“Gan,
kamu marah ya? Maaf donk aku kan cuman nanya, gak dijawab
juga gak apa – apa.” begitu isi pesan
yang ku kirim kepadanya.
Namun,
sudah satu jam tak ada jawaban messageku
darinya. “Mungkin dia udah tidur,
pasti capek abis lari – larian tadi.”
pikirku dalam hati
Aku
pun bergegas tidur. Namun, di tengah larut malam, mimpi itu datang lagi dan
menceritakan hal yang sama. Spontan aku terbangun dari tidurku, lalu aku sholat
tahajud untuk menenangkan pikiranku.
∙ ∙
∙
Sejak
kejadian semalam, pikiranku kacau. Seperti ada yang menarik ku untuk terus
menyelidiki mimpi itu, apa benar ada kaitan nya dengan Agan?
“Namun, apa kaitannya ya?“ pikirku
Lalu aku teringat akan kata – kata
Yuni.“Jangan terlalu dekat dengannya”
“Tapi apa alasannya?” pikirku
kembali.
Aku bergegas menemui Yuni dan
memaksanya untuk menceritakan apa maksud perkataannya waktu itu.
“Yun,
tolong kamu jelaskan kepada ku sekarang apa maksud perkataanmu waktu itu
tentang Agan?” tanya ku yang sontak membuat kaget Yuni
“Dulu
sewaktu kami SD, Agan tidak mempunyai teman. Tak ada yang mau berteman
dengannya karena pada takut dengannya. Baik itu karena bulu di tangan dan
kakinya yang sudah tebal dan keriting – keriting , persis bulu orang – orang
dewasa. Jelas itu bukan ciri – ciri anak seusia dia yang duduk di bangku SD.
Serta tingkah laku nya yang aneh yang suka membawa koran dan kopi setiap
sekolah. Dia bilang itu hobinya. Namun, jelas tak semua orang percaya akan hal
itu. Semua guru – guru pun menyadari akan keanehan tersebut.”
“Mengapa
aku harus menjauhinya?” tanya ku kembali
Kamu
masih belum paham akan ceritaku tadi.
“Agan
itu orang yang aneh, nanti kamu ada apa – apa kalau kamu berteman dengannya.” jawab
Yuni
Perkataan
serta alasan Yuni itu membuat aku berpikir keras. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Apakah
ada hubungannya dengan mimpiku?
Tiba – tiba aku teringat akan
mimpiku kemarin. Mimpi yang sangat aneh. Sebuah rumah yang tua, tumpukan Koran
dan secangkir kopi hitam. Sontak aku kaget dan teringat cerita Yuni tentang
kebiasaan Agan waktu SD. Sangat sama
dengan barang – barang yang ada dalam mimpiku.
“Apa benar ada hubungannya?” tanyaku dalam hati.
“Hei
Ovi!” teriak Owen sambil berlari menuju Ovi
“Aduh
buat kaget aja kamu. Kebiasaan deh.” jawab Ovi yang sedikit kesal
Lalu
mereka berjalan bersama sampai tiba di sekolah. Sepanjang perjalanan mereka
berbincang – bincang. Owen pun bercerita tentang Agan. Tiba - tiba Ovi ingat sesuatu. Ovi lalu bertanya –
tanya kepada Owen tentang Agan, karena Owen teman akrabnya Agan.
Namun
jawaban Owen tak membuahkan hasil. Karena Owen tahu kalau aku menyukai Agan,
jadi semua tentang Agan yang baik – baik diumbar – umbar oleh Owen. Aku pun
tersenyum – senyum saja mendengarnya.
“Dasar anak jahil.” teriakku dalam
hati.
Karena
keasyikkan berbincang – bincang, hingga kami lupa waktu. Pukul tujuh sudah ada
di depan mata. Kami pun berlari dan ternyata gerbang sekolah sudah tertutup.
Harus mengeluarkan rayuan maut dulu untuk merayu Pak Satpam.
“Ayo
Ovi cepet merayu, Pak Sugi kan seneng ama kamu” kata Owen
Dengan
terpaksa Ovi merayu Pak Sugi agar diperbolehkan masuk, karena kami hanya telat
5 menit. Dengan kerja keras dan membutuhkan mental yang kuat untuk menghadapi
satpam yang ganjen, akhirnya kami pun
bisa masuk.
Kami berpisah di koridor kelas. Saat
aku ingin menuju kelas dan melewati sebuah ruangan kecil di dekat tangga, aku
melihat Agan sedang berdiri di depan ruangan tersebut. Entah apa yang dia
kerjakan, yang jelas membuatku penasaran.
Aku mengintipnya dari balik dinding.
Namun sialnya, pak guru lewat dan melihat Agan terlebih dahulu. Lalu pak guru
menyuruh Agan untuk masuk kelas, dan aku pun ketauan. Aku ketauan telat karena
aku masih menggendong tas.
∙ ∙ ∙
Sepanjang
lamunanku dari tadi, aku melamunkan sosok Agan yang tak pernah hilang dari
pikiranku. Aku sangat mencintai dia, tapi cintaku hanya dapat aku pendam dalam
– dalam. Dia pun tak mengetahui akan perasaanku. Namun, aku tak mau cintaku
bertepuk sebelah tangan, aku ingin Agan menyadari bahwa aku sayang kepadanya. Ntah sampai kapan aku harus memendam
rasa ini sendirian? Ntah sampai kapan
aku mampu bertahan? Hanya Allah yang tahu.
Tak
sadar terlalu tenggelam dalam lamunanku, tak terasa air mata keluar dan menetes
ke pipiku. Yuni yang melihat air mataku keluar segera menghampiriku. Aku hanya
bisa diam dan segera menghapus air mataku. Mengapa sosok Agan sangat berharga
dalam diriku? Juga aku takut kehilangan dia? Namun, rasa – rasa dia kan meninggalkanku telah
aku rasakan sekarang. Aku merasa sepertinya dia tak lama ada di kehidupanku.
Tapi tak tahu apa sebabnya? Mungkinkah dia mencintai orang lain? Tapi siapakah
perempuan itu? Atau ada alasan lain? Hanya Agan dan Allah yang tahu. Semua aku
serahkan kepada Allah.
“Kamu
kenapa? Sakit?” tanya Yuni
Pertanyaan
Yuni membangunkan aku dari lamunanku. Segera aku mengajaknya ke kantin, “Ternyata
sehabis melamun, lapar ya.” pikirku
Saat di kantin aku melihat Agan
sedang makan sendirian. Tak terlihat Owen disana. Ntah mengapa akhir – akhir ini Owen jarang sekali bersama Agan,
mungkin mereka berdua sedang sibuk, atau Owen yang lagi sibuk.
Rasanya
aku ingin menghampiri Agan dan duduk makan bersama dengannya, namun aku malu.
Aku hanya mampu memperhatikannya dari kejauhan.
∙ ∙
∙
“Mau
beli buku apa? Tumben ke toko buku.” tanya Yuni
“Majalah
terbaru kemarin, keren banget.” jawab
Ovi
Sesampainya
mereka di toko buku, ternyata di sana
ada Agan. Jantung Ovi pun berdetak – detak. Gugup tiap melihatnya apalagi
bertemu dengannya.
“Sendirian
Gan?” tanya Ovi
Namun,
Agan tak menjawab dan langsung ke kasir untuk membayar bukunya. Ovi pun
mengikuti Agan ke kasir walaupun Ovi belum mengambil buku satu pun. Saat Agan
membuka dompetnya, Ovi melihat kembali tulisan angka 90 di dompetnya. Lalu
matanya beralih ke sebuah foto yang tertempel di dompetnya. Sepertinya foto itu
foto TK, SD,
hingga SMP. Mengapa aku bisa tahu? Karena bajunya. Namun anehnya, wajah di
fotonya tersebut tak berubah, dari TK hingga SMP. Terlintas pertanyaan dalam pikiranku,
ingin berniat untuk bertanya, namun niat itu aku cancel. Agan pun telah pergi, aku masih berdiri di depan kasir.
“Mau
beli buku apa mbak?” tanya seorang yang berada di kasir tersebut.
Aku
pun langsung berlari menuju Yuni dan menceritakan apa yang aku lihat tadi. Yuni
seperti biasa saja mendengarnya.
“Lalu?”
jawab Yuni dengan raut wajah biasa
“Huh, nyebelin.” jawab Ovi kesal
meninggalkan Ovi
Saat
tiba di depan toko sepatu dan baju – baju, Ovi melihat Agan lagi yang sedang
memilih – milih baju. Lalu dia keluar dengan membawa tas yang berisikan baju.
“Namun
mengapa dia membeli baju di toko ini? Ini kan toko untuk orang tua.” kata Ovi
Ovi
pun langsung menarik Yuni untuk masuk ke toko tersebut, lalu bertanya kepada
pelayan yang tadi melayani Agan. Ternyata Agan benar membeli baju ukuran orang
dewasa.
“Tapi
untuk siapa? Ayahnya kan
sudah tiada.” jawab Yuni
Timbul
suatu keanehan baru yang Ovi rasakan. Koran, kopi serta baju ukuran orang
dewasa. Ada apa
dengan semua ini?
Sangat tidak masuk akal. Dengan
tingkah laku aneh yang selalu diam apabila di tanya. “Ada apa sebenarnya?” pikir Ovi dalam hati
∙ ∙ ∙
“Nomor
yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan.” ucap seorang perempuan operator.
Dengan
cepat kilat aku pergi ke halte bis agar tak ketinggalan bis. Emang nasib ku lagi beruntung banget, aku belum ketinggalan. Ketika
berdesakan naik bis, tiba-tiba i-Phone
seseorang jatuh dan terkena kakiku, namun tak ada satu orang pun yang menyadari
kejadian itu. Berniat untuk mengambil dan mengembalikannya kepada orang – orang
di dalam bis, namun aku pun berfikir kembali, karena sorot mataku langsung
tertuju pada gantungan i-Phone tersebut,
bertuliskan 90, aku pun langsung teringat akan foto di dompet Agan, dan
ternyata handphone ini benar milik
Agan.
∙ ∙ ∙
“Permisi
.. Permisi .. Permisi ..” teriak ku sambil berlari.
Sepanjang
aku berlari, pikiranku terus tertuju ke Agan.” pantas saja dihubungin gak aktif – aktif, i-Phone
nya aja emang gak aktif, kayaknya lowbet
nih.” ujar ku dalam hati sambil memandang i-Phone yang ku pegang.
Namun, tiba – tiba kakiku terhenti
ketika aku mendengar sebuah irama nan
merdu dari sebuah alat musik berwarna hitam putih, dan diiringi suara emas nya
dan bernyanyi …
Ku rindu di sayangi
sepenuh hati sedalam cintaku setulus hatiku
Ku ingin memiliki
kekasih hati tanpa air mata tanpa kesalahan
Bukan cinta yang
melukai diriku dan meninggalkan hidupku lagi
Tolonglah aku dari
kehampaan ini selamatkan cintaku dari hancurnya hatiku
Hempaskan kesendirian
yang tak pernah berakhir
Bebaskan aku dari
keadaan ini sempurnakan hidupku dari rapuhnya jiwaku
Adakah seseorang yang
melepaskan ku
Dari kesepian ini
Tiba
– tiba air mataku menetes mengenai telapak tanganku, segera aku menghapusnya,
dan aku pun mengintip dari balik kaca pintu, ternyata seorang laki – laki
sedang duduk di kursi sambil melamun menghadap jendela dengan jari – jari
tangan masih tertempel di atas piano. Terlintas di benakku apa yang terjadi
dengannya. Tanpa ku sadari, Agan mengetahui keberadaan ku.
“Kembalikan
i-Phone ku.” ujar Agan tiba – tiba
mengagetkanku.
Aku
pun terlihat pucat dan menjadi gugup. Lalu aku pun masuk dan mengembalikan i-Phonenya, ku jelaskan semua
kejadiannya agar ia tak salah paham, lalu aku pun bertanya “90 itu apa?” tanya ku
Namun tiba – tiba wajah Agan memerah
seperti di landa kemarahan yang dahsyat. Jantungku mulai tak karuan, badan
panas dingin, gugup, pucat, semua campur aduk.
“Mengapa
kau selalu ada di setiap aku merasakan kepedihan ku?” ucap Agan dengan nada
keras dan pergi meninggalkan ku
Aku
seperti terseret dalam kegelapan yang sangat mendalam. Kata – kata itu membuat
air mataku menetes untuk kedua kalinya. Tersudut dan tersungkur ke lantai membuat
hati tersayat – sayat. Seorang yang aku cintai, yang selalu hadir dalam bunga
tidurku, masuk ke dalam pikiranku, telah mengucapkan kata – kata yang dapat
merobek hati ku seperti sekarang. Aku tak kuasa untuk menahan amarah bahkan
rasa sakit ini, namun apa daya, aku tak sanggup dan tak berani untuk meluapkan
emosiku kepadanya, karena sesungguhnya aku menyayanginya .
∙ ∙ ∙
“Teeet
… Teeet … Teeet” bel pun berbunyi, tanda masuk kelas.
Dari
tempat dudukku, aku melirik ke arah bangku kosong di belakang, ternyata Agan
tak masuk. Hatiku mulai berdegup kencang. Ada
apa dengannya? Apa yang terjadi padanya? Terlintas tiba – tiba di benakku
kejadian kemarin. “Apa ini ada kaitannya dengan yang kemarin?” ucapku dalam
hati
“Owen,
kenapa Agan gak masuk?” bisikku pelan – pelan
“gak tau, i-Phonenya aja gak aktif dari kemarin.” ujar Owen
Hatiku
mulai gelisah tak tenang. Rasa ingin menjenguknya sangat besar di benakku.
Namun, aku ingat kembali akan kejadian kemarin. Kejadian yang tak pernah aku
dan dia rasakan sebelumnya. Sebuah pertengkaran hebat yang menyisakan rasa
kepedihan di hatiku khususnya.
Ternyata
kejadian kemarin tak menjadi halangan ataupun alasan untukku tak menjenguknya.
Aku berjalan dengan gugup menuju ke rumahnya. Saat tiba di depan rumahnya,
terlihat sangat sepi. Aku mengetok pintunya.
“Tok
.. Tok .. Tok …”
“Tok
… Tok … Tok …”
Berulang
kali aku mengetok pintunya, namun hasilnya nihil. Ku coba untuk membuka
pintunya, ternyata tak di kunci. Hasrat untuk masuk dan mengetahui keadaanya
pun tak dapat aku tunda. Aku masuk dan langsung menuju kamar yang bertuliskan “
AGAN ROOM ”. Pasti itu kamarnya. Lalu aku masuk, dan Agan tak ada di kamar.
Rasa gelisahku semakin menjadi – jadi. Namun, tiba – tiba sorot mataku langsung
tertuju pada sebuah buku kecil berwarna merah yang sudah kusam namun menarik
untuk di baca. Dengan rasa gelisah, takut serta cemas ketauan dan lancang masuk
rumah bahkan kamar orang, aku pun mulai membukanya.
“Bismillahirrohmanirrohim.”
ucapku dalam hati
Mataku
mulai membaca tulisan pena berwarna biru tersebut dengan cepat. Namun, betapa
kagetnya aku setelah membaca sebuah diary
bagian paling belakang yang berisikan :
Aku sadar, aku tak
seperti kalian
Hidup dengan keadaan
normal
Bergaul dengan teman
sebaya, bahkan dapat menemukan kekasih hati
Yang mampu membuat hati
kalian bahagia
Hidupku penuh dengan ketakutan,
kesepian, kecemasan, bahkan keanehan
Itu aku rasakan sendiri
sebagai manusia yang tak seperti biasanya
Aku tak tertarik akan
dunia anak remaja bahkan percintaan
Aku bahkan tertarik
dunia kedewasaan
Kadang aku berfikir
untuk apa aku hidup kalau aku menahan sakit
Sakit yang sangat sakit
dan mungkin paling tersakit
Hidup diantara orang –
orang normal seperti kalian
Apakah kalian tahu
kalau aku ini makhluk aneh?
Makhluk yang tak sesuai
dengan kalian
Orang yang sudah tua
namun wajah ku tetap tak berubah
Suara ku bahkan bentuk
tubuhku tak menampakkan kalau aku orang dewasa
Yang sampai tahun ini
usia ku 20 tahun
Dan tepat pada hari ini
tentunya
Tak ada yang merayakan
hari lahirku
Aku sama sekali tak
bahagia hidup di dunia ini
Apakah aku makhluk yang
abadi?
Aku tak tahu apa yang
Engkau rencanakan untukku ya Tuhan
namun kalau boleh aku
meminta satu permintaan
tolong cabut nyawaku
saat ini juga
aku rela dan aku siap
semoga Engkau yang
disana mendengar permohonanku
Sesak
terasa di dada, tak kuasa aku menahan air mataku. Kaki ku seolah mengajakku untuk
bergegas pergi dari sini dan segera mencari Agan, orang yang sangat aku cintai.
Berlari dengan membawa tangisan dan rasa
shock yang masih mendalam. Mencari dan terus mencari. Putus asa hampir
menghampiri perasaan ku. Namun, selalu ku tolak. “Aku harus menemukan Agan”
ucapku dalam hati.
Sudah
sangat jauh kakiku melangkah, namun Agan tetap tak ku temukan. Tapi tiba – tiba
mataku tertuju pada sebuah sungai kecil di bawah jembatan. Rasa ingin menengok
kesana mulai aku rasakan. Aku bergegas kesana dan tak ku sangka aku menemukan
nya.
Seorang laki – laki nan malang, duduk di pinggir
sungai dengan raut wajah yang kusut dan resah.
“Agan?”
ucapku tiba – tiba
Namun
tak ada jawaban. Aku mendekat dan menengok ke arah wajah nya. Ternyata benar
dugaanku, aku telah menemukannya.
“Agaaaaaaan
…” ucapku kembali sambil menangis dan memeluknya dari belakang.
Lalu
aku duduk di samping nya dan sebuah air mata jatuh di telapak tanganku. Aku
menengok ke wajah Agan dan ternyata seorang laki – laki yang aku sayangi
mengeluarkan air mata yang begitu indah dari mata yang sangat indah.
Lalu aku hapuskan air matanya dengan
tangan ku.
“Terima
kasih” ujar Agan
Betapa
kagetnya aku, Agan berkata padaku tanpa nada yang keras seperti kejadian waktu
itu. Lalu dia menundukkan kepala sedangkan aku menatap air yang mengalir begitu
tenang. Lalu aku berkata “untuk?” tanyaku singkat.
Lama tak ada jawaban. Ku pandangi
dia namun tetap tak ada respond. Lama
aku menunggu, dengan hati penasaran lalu aku mengangkat kepalanya, dan tiba –
tiba sebuah wajah nan pucat, tubuh nan kaku ada di depan mata ku.
Ku pegang urat pada lehernya, dan
betapa kagetnya aku setelah mengetahui bahwa Agan telah tiada. Tangisku tak
dapat ku bendung lagi, suara jeritan tangis pun aku luapkan di atas wajahnya.
“Kau
kejam. Mengapa kau meninggalkan ku. Aku sangat mencintaimu. Aku tak peduli kau
seperti apa, bagiku kau bagai kuda putih nan gagah yang siap menjemputku untuk
terbang keliling angkasa bersamamu. Namun mimpiku kandas, kau bahkan tak
mengetahui perasaanku. Aku mencintaimu dengan sederhana. Aku menyayangimu Agan.
Tapi aku lega telah mengungkapkannya di hadapanmu, aku harap kau tahu isi
hatiku. Satu hal lagi, aku minta maaf padamu karena aku telah lancang membaca diary mu, namun berkat kelancangan ku,
aku mengetahui apa maksud dari semua tentang mu selama kehidupan mu. Terima
kasih Agan telah hadir dalam mimpi serta khayal ku. Semoga kita dipertemukan
dan bahagia di sana”
ucapku yang diiringi dengan air mata kebahagiaan.
Lalu
aku persembahkan sesuatu untuknya. Sesuatu yang sangat spesial. Ku lantunkan
sebuah tanda cintaku padanya dan ku persembahkan hanya untuk nya
Mungkin ini memang jalan takdir ku
Mengagumi tanpa dicintai
Tak mengapa bagi ku
Asal kau pun bahagia
dalam hidupmu
Dalam hidupmu
Telah lama ku pendam
perasaan itu
Menunggu hatimu
menyambut diri ku
Tak mengapa bagi ku
mencintaimu pun adalah bahagia untuk ku
Bahagia untuk ku
Ku ingin kau tahu
Diri ku disini menanti
dirimu
Meski ku tunggu hingga
ujung waktu ku
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
Dan izinkan aku memeluk
dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal
untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini
bahagia untuk selama nya.
